HIDUP ADALAH MISTERI
🌼 MEMOAR 🌼
Judul : Hidup adalah Misteri
Karya : Intan Purnama Sari
Pengalaman, renungan, proses bangkit,berjuang,mengobati luka yang menjadikannya tumbuh menjadi motivasi.
-----------------
Saya terperangkap dalam kegelisahan mendalam, pilihan sulit yang harus saya putuskan. Bekerja di kota orang jauh dengan orang tua bukanlah hal yang mudah namun saya lakukan demi membahagiakan orang tersayang.
Hari-hari yang saya lewati dipenuhi dengan ujian, masalah seakan merapat tanpa barisan menyerbu tanpa berpamitan. Saya hanya bisa menghadapi dengan ketabahan.
Saya masih ingat permasalah itu tentang pekerjaan dan juga percintaan.
Pekerjaan dibawah tekanan memang tidak mudah namun hampir setengah tahun saya bertahan dan berjuang untuk mampu bekerja dengan benar, tetapi atasan saya selalu saja memarahi saya meskipun sudah mengupayakan pekerjaan sebaik-baiknya.
Selain tekanan dari pekerjaan saya mengalami permasalahan rumit lain perihal cinta yang saya jalani, dimana ketika cinta yang saya pilih bukan yang Tuhan takdirkan.
Saya masih ingat saat itu, saat Tuhan tidak mentakdirkan saya dengan orang yang saya sukai saat itulah masa terpuruk apalagi saat itu akan terjadi pernikahan.
Saat rencana telah disusun dengan baik namun semuanya belum tentu berjalan baik, masalah demi masalah datang sehingga terjadinya perpisahan yang tidak terduga.
Saya teringat sekali saat itu saya seperti orang bodoh yang mengemis padanya memohon kembali untuk melanjutkan pernikahan yang telah direncanakan namun dia mengabaikan saya. Saya benar-benar merasa terpuruk pada saat itu, makan tak bisa, menangis setiap malam.
Lalu saat-saat masa terpuruk ada seseorang yang menghampiri saya dan mengajak saya menikah, namun tanpa saya duga orang itu hanya memanfaatkan saya saja lalu begitu saja meninggalkan saya sendiri dan membatalkannya, padahal dia yang pertama datang pada saya.
Hari-hari berlalu tanpa semangat, saya mencoba mengobati luka dihati sayang karena telah melewati masa sulit itu, saya hampir putus asa oleh hidup dan kenyataan ini. Orang yang saya cintai berlalu begitu saja meninggalkan saya, bahkan saat saya mengemis untuk kembali dia mengabaikan saya.
Hari itu malam yang sangat membahagiakan untuk saya dimana saya dikenalkan oleh sahabat saya kepada seorang yang dia kenal, mulanya hanya untuk sekadar mengobrol agar saya tidak berlarut sedih.
Namun saya tidak menduga Tuhan memang punya rencana yang begitu indah, saat saya disia-siakan dan disakiti seseorang sampai pada saat merasa putus asa oleh hidup saya sendiri, Tuhan dengan begitu baik
mengirimkan saya orang yang luar biasa.
Seseorang dengan jiwa yang besar yang membawa perubahan dalam hidup saya. Memang sesuatu yang menurut diri kita baik, menurut Tuhan belum tentu demikian. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik dan mengerti bahwa saya akan lebih bahagia dengan seseorang yang sekarang.
Saya diperlakukan dengan begitu baik, sampai pada waktunya rencana Tuhan menyatukan di pelaminan yang saya impikan, meskipun hanya dengan sederhana saya tetap merasa bahagia dan bersyukur.
Ternyata masih ada orang-orang baik di dunia ini, dan salah satunya adalah suami saya. Suami saya membantu saya dalam pekerjaan saya, membuat rasa nyaman yang tak bisa jauh dari dirinya.
Saya masih teringat bahwa mimpi saya adalah menikah dengan adanya resepsi namun meski dengan tanpa resepi saya merasa bersyukur bahwa mungkin ini jalannya. Meskipun saya merasa sangat sedih saya berusaha ikhlas menerima.
Sampai pada dititik saat ini saya tak menyangka hal-hal sulit yang telah saya lalui menemukan titik terindah yang telah Tuhan siapkan untuk saya. Saya akan menggelar resepsi yang telah saya impikan selama ini.
Memang terkadang untuk menuju sesuatu yang indah kita perlu melewati masa sulit, rasa bersedih, kecewa, rasa putus asa yang sudah habis semua sampai pada akhirnya hal-hal indah akan membersamai.
Tidak perlu merasa sendiri saat terpuruk menghampiri, saya percaya pada hati saya bahwa Tuhan selalu bersama saya dan akan membuka jalan untuk saya. Tuhan hanya sedang menguji seberapaya bertahan.
Komentar
Posting Komentar